EKOBIS  

Pensiunan Jurnalis Koran, Berhasil Tekunin Bisnis Camilan Bersama Istri

“Sebelum pandemi, kami memasok produk berupa aneka peyek dan keripik ke 15 agen atau toko kue di tujuh pasar tradisional dan modern di kawasan Tangerang. Termasuk reseler yang datang dari Jakarta, Depok dan Bekasi,” cerita Fisca.

Sebelum Pandemi Produksi Camilan Mencapai 12 Bal (60 Kilo) sehari - Hj. Fisca Isyanu.

JAKARTA, nesiapost.com – Setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencabut pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), serta penggunaan masker tidak lagi wajib di luar ruangan, pelaku UMKM di negeri ini menyambut senang dan berharap bisnisnya bergairah seperti ketika sebelum pandemi Covid-19.

Salah satu pelaku UMKM kuliner yang sumringah adalah pasangan suami istri (Pasutri), H. Sinano Esha dan Hj.Fisca Isyanu. Mereka mengaku senang ketika mendengar penegasan Presiden Jokowi tersebut, mengingat selama dua tahun produk bisnis camilannya rontok hingga 70% lebih.

“Sebelum pandemi, kami memasok produk berupa aneka peyek dan keripik ke 15 agen atau toko kue di tujuh pasar tradisional dan modern di kawasan Tangerang. Termasuk reseler yang datang dari Jakarta, Depok dan Bekasi,” cerita Fisca.

Dijelakan wanita berputra empat ini, sebelum pandemi produksinya mencapai 12 bal sehari (sebal berisi 3 kilogram), dengan mempekerjakan lima orang karyawan. Tapi begitu Covid melanda pada 2020, satu persatu pemilik toko dan reseler tak lagi order, bahkan di antaranya tutup.

“Ketika Covid 19 mewabah, terlebih setelah PPKM diberlakukan, produksi kami berkurang jauh. Sehari hanya bisa bikin tiga atau empat bal saja. Lebih cilaka lagi, di tengah wabah Covid-19, harga minyak goreng mahal sekali, dan sukar didapat di pasaran. Kami terpuruk selama setahun lebih. Jadi, suka atau tidak suka, karyawan pun kami rumahkan seluruhnya,” urai Fisca tentang keterkaitan pandemi atas merosot drastis produksinya.

Meski begitu, lanjutnya, ia dan suami bersyukur bahwa Allah masih memberi rezeki. Selama dua tahun pandemi, tetap memasok lima agen/toko kue yang masih eksis, sementara 10 lainnya terhenti. Begitu juga dengan reseler, tak ada yang nongol mengorder.

Berkaitan dengan usaha, Fisca mengaku sudah terbiasa berdagang. Sejak masih duduk di SMA, ia kerap berjualan pakaian kepada sesama siswa dan teman pergaulan. Ia terlahir dari keluarga Betawi yang sederhana.

“Begitu juga suami saya, selain berprofesi wartawan, juga berjualan produksi rekaman musik di tokonya, sound sistem, juga studio rekaman. Artinya, untuk urusan bisnis dan berdagang, kami sudah terbiasa,” ujar wanita yang telah menunaikan ibadah haji pada 2009.

Namun, jelasnya, toko musik dan lainnya musnah akibat penjarahan pada 1998. Kerugiannya cukup besar, dan secara psikologis cukup memukul. Suaminya pun tak lagi berbisnis, hanya mengandalkan saleri sebagai jurnalis.

Selepas SMA, cerita Fisca, sempat bekerja di Kantor Hukum Nasrun Kalianda dan Partner selama dua tahun. Kemudian hengkang ke perusahaan film Virgo Putra Film, milik Ferry Anggriawan mantan suami artis Meriam Bellina, guna cari pengalaman hidup.

“Saya lama bekerja di Virgo Putra Film, kemudian mengundurkan diri setelah anak pertama berusia 3 tahun. Saya nggak pernah bekerja di tempat lain, hanya di dua tempat itu. Allah adil, sebulan setelah tamat SMA, saya dapat pekerjaan di kantor hukum Pak Nasrun,” tutur Fisca.

Setelah anak usia tiga tahun, lanjutnya, tak lagi menetap di salah satu rumah milik orangtuanya di kawasan Kota Bambu, Jakarta Barat, yang sejak menikah dilakoninya. Kebetulan kedua orangtuanya penduduk asli dari kawasan tersebut.

“Orangtua saya punya beberapa kontrakan sederhana. Kami menempati salah satunya. Tapi, setelah lima tahun menikah, kami ingin mandiri. Pindah ke Tangerang,” ungkapnya.

Di lokasi baru, ia dan suaminya membuka ladang cuan dengan memproduksi makanan ringan seperti keripik singkong dan kacang bawang (kacang tanah kupas goreng). Di pasarkan ke warung, kantin sekolah dan kafe di Jakarta serta Tangerang.

“Produk kami diterima. Laris manis. Cuma, perputaran modal lama. Kami baru dapat cuan setelah dagangan habis. Agak menyulitkan bagi usaha bermodal kecil. Kami kemudian putar otak, cari produk dan market baru yang cepat menghasilkan,” ujar Fisca.

Akhirnya, masih ceritanya, ia dan suami coba bikin aneka peyek dan keripik tempe/bayam. Dipasarkan ke agen atau toko kue, bukan lagi warung, kantin atau kafe, dijual dalam ukuran kiloan (bal). Bukan dikemas ukuran ekonomis.

“Untungnya lebih kecil, memang. Tapi perputaran modal cepat. Konsumen membayar secara tunai, dan kami tak lagi dipusingkan pengembalian produk yang tak laku dijual pedagang. Dalam hitungan beberapa bulan saja, produk kami meningkat,” jelasnya.

Fakta itu, kata Fisca, membuat suaminya bersemangat melebarkan pasaran ke banyak agen/toko kue. Termasuk memanfaatkan media sosial, untuk menjaring kerjasama dengan reseler. Hal hasil, dalam hitungan tahun pertama produk meningkat secara signifikan.

“Alhamdulilah, kami mampu bangun rumah yang semula sederhana di Perum Dasana Indah (Bonang), Kabupaten Tangerang. Kamipun mempekerjakan lima orang untuk mengejar target. Namun, Allah berkehendak lain, pada 2020 Covid-19 mewabah, dampaknya produk kami menurun tajam,” katanya.

Cerita Fisca dibenarkan sang suami yang mantan jurnalis Bisnis Indonesia, koran ekonomi terbesar di negeri ini. Ia mengaku pensiun dini guna menekuni bisnis camilan bersama istri.

“Kami berdua membangun bisnis camilan. Sebenarnya, profesi seperti wartawan nggak ada pensiunnya. Selagi mampu, teruslah berkarya meski usia tak lagi muda. Sebagai pekerja, saya adalah pensiunan. Tapi sebagai jurnalis, saya masih aktif di beberapa online milik sahabat,” papar Sinano, penulis fiksi yang cukup produktif di tahun 1980-an.

Setelah PPKM dicabut, lanjutnya, diharapkan ekonomi pulih seperti semula, daya beli masyarakat kembali tumbuh pasca mati suri selama dua tahun. Iapun mengaku sudah mulai merancang pengembangan bisnis camilan yang merosot tajam sepanjang pandemi.

“Saya berharap rekan wartawan mau menekuni dunia usaha. Sebab, ketika tak lagi mampu bekerja karena faktor usia, tentu tak menyusahkan anak-anak yang punya kehidupannya sendiri. Secara finansial mandiri, tidak membutuhkan bantuan orang lain atau anak,” saran pria yang kini memiliki lima cucu kepada sesama profesi jurnalis. (Rina Maharadja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *