Nesiapost.Com.Sulteng.Bungku – Memanfaatkan Lahan garapan yang tidak lagi produktif menjadi tanaman pangan berkonsep organik diharapkan bisa memberi manfaat bagi ekonomi serta meningkatkan ketahanan pangan bagi warga setempat.
Meski tidaklah mudah, penerapan pertanian ramah lingkungan pada sawah berpupuk organik, juga bisa menjaga humus tanah serta lingkungan, tentunya juga dapat menghasilkan pangan sehat yang bernutrisi tinggi.
Konsep serupa kini diterapkan warga kelompok tani di Desa Binaan PT Vale IGP Morowali. Empat Desa ini berada di Kecamatan Bungu Timur, diantaranya Desa Ululere, Desa Kolono,Desa Bahomoahi dan Desa Oneputejaya.
Melalui pertanian berkelanjutan, setidaknya ada 11 Hektar are menjadi lahan garapan sawah organik yang dikelolah saat ini.
Dengan konsep sawah organik, Rudin (49) dan Faisal (51) warga Desa Ululere, mencoba peruntungannya dengan mengubah kebun coklat yang tidak lagi produktif menjadi hamparan sawah yang menghasilkan butiran beras yang bernilai tinggi, dari tanaman padi varietas Menthik susu asal jawa barat.

” Melakukan penanaman secara organik sudah Tiga Tahun, jenis varietas padinya itu menthik susu dari wilayah jawa barat. lahan kelolah saya itu 52 are,setengah hektar, katakanlah 25 juta dibahagi tiga dapat 8 juta, jadi dalam 3 bulan itu , kita punya pendapatan perbulan itu delapan juta, itu untuk luasan 52 are, setengah hektar,” Ungkap Rudin.

Adapun karakteristik Jenis padi ini memiliki aroma wangi dengan rasa pulen seperti beras ketan, tekstur nasinya sangat lembut dan tidak mudah basi, serta memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi kesehatan.
varietas jenis ini sangat cocok untuk penanamaan khusus padi organik, hasilnyapun kaya akan karbohidrat, serta bebas gluten dan rendah natrium, gula, dan lemak.
Faisal juga menggambarkan, melalui konsep pupuk organik, dari satu hektar lahan sawah garapan mampu menghasilkan Enam Ton gabah setiap tahunnya. Dari hasil tersebut ia bisa menghasilkan Tiga Ton beras organik dan mampu meraup hasil hingga puluhan juta rupiah.
” Dua kali panen pertahunnya, perhektar itu kita bisa mencapai 6 Ton gabah , bahkan musim kedua jika di gabung itu kenanya bisa sampai 7 ton gabah, dari 6 ton itu kurang lebih bisa menghasilkan 3 ton beras, hitungan kotornya bisa 2 ton beras (2000 Kg) , dari 2000 kilogram jika dikali 25 ribu bisa menghasilkan 50 juta,” ungkapnya.
Meski demikian, penerapan padi organik memiliki karakteristik yang berbeda dengan padi berpupuk sintetis. Menjadi binaan PT Vale para petani juga diajarkan bagaimana menghasilkan pupuk kompos, serta pupuk nabati dari olahan pohon gamal untuk menjaga area sawah dari hama walangsangit.
Tentunya ini tidak dilakukan sendirian, pertanian organik sangatlah mudah jika dilakukan secara gotong royong agar menghasilkan tanaman sehat yang bernilai tinggi. Ssecara ekonomi cocok tanam cara organik bisa memenuhi harapan masa depan bagi anak anak mereka.

” Jadi kalau bicara ongkos. kita diorganik ini hanya membutuhkan waktu kerja saja , kita tidak membutuhkan (Pupuk) urea lagi , jadi kita hanya butuh waktu untuk membuat (Pupuk) kompos, terus dengan waktu untuk penyiangan dari gulma, dan pupuk nabati untuk mengusir hama walangsangit, alhamdullillah kita sudah mendapatkan sertifikat organik, dari INOFICE, lembaga sertifikasi organik, dari kementerian, melalui penyuluh pertanian dinas propinsi Sulteng”, Ungkap Rudin. (RN)











