Sentral Produk Gula Aren Bongas Belum Tersentuh Pemkab Pemalang

Keterangan foto: Isti Faiyah dan Fukron di tengah gula aren produksinya (doc.Istimewa).

Nesiapost.com.PemalangTERNYATA daerah terpencil sekalipun seperti Desa Bongas di Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, pertumbuhan ekonominya tidak terbelakang. Justru dengan memproduksi gula aren jadi terdepan dibandingkan daerah sejenis, yang jauh dari kesibukan kota besar. Ada sekitar 30 produsen yang menghasilkan ribuan linting (satuan cetak) gula aren padat tiap harinya.

Menurut Isti Faiyah, salah satu produsen gula aren setempat, saat ini pemasaran melalui online terbilang lancar dan menjanjikan. Sejak memanfaatkan penjualan melalui jejaring internet media sosial (Medsos), pendistribusian produk merambah ke berbagai daerah. Bukan lagi di seputaran pasar Kecamatan Watukumpul, atau Kabupaten Pemalang saja.

“ Saya mulai produksi pada 2012, sampai 2018 menjual produk secara manual ke pasar-pasar, atau pengepul. Harga jual rendah, tak sebanding dengan biaya operasional, mengingat jarak tempuh ke pasar-pasar cukup jauh,” cerita Isti tentang produksnya.

Pada 2019 dia coba memasarkan lewat online di grup-grup facebook, instigram dan lainnya. Ternyata respon dari masyarakat cukup positif. Pesanan terus mengalir lewat media sosialnya. Jumlah produknya pun bertambah. Namun mengingat masih di bawah 200 kilogram perhari, ia dan suaminya, Fukron, yang mengerjakan tanpa karyawan.

“ Belum terbilang produk massal. Pemasaran sebagian besar di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jobodetabek), beberapa di Jawa Tengah, jawa Timur dan Jawa Barat. Bahkan gula aren cair saya kirim ke Taiwan lewat TKW. Belum banyak, masih kecil-kecilan. Sifatnya masih promo,” jelas produsen gula aren yang mengaku pemilik 100 batang pohon di area satu hektar.

Dari 100 pohon itu, lanjut Isti, baru sekitar 50 batang yang sudah bisa diolah, diambil air nira sebagai material gula aren. Hasil yang diperoleh antara 50 sampai 80 kilogram tiap harinya. Satu kilogram dikemas jadi satu bungkus isi lima tangkap linting gula aren.

“ Harga jual produsen sekitar Rp. 27.500 perbungkus (satu kilogram). Pedagang Sembako di pasar kawasan Pemalang menjaulnya sekitaran Rp.8.000 pertangkap, atau dua linting. Di Jabodatabek atau daerah lainnya mungkin lebih mahal. Gula aren asal Bongas dikenal keasliannya. Tanpa campuran dan bahan pengawet,” jelas Isti.

Dijelaskan, ke aslian produknya gula arennya bisa diuji di lab, atau secara konvensional. Bandingkan keaslian dengan gula aren lainnya.

“ Gula aren produk saya jika di letakan di suhu ruang, dalam kurun waktu dua jam akan mengembun, dan mudah meleleh, karena tanpa pengawet. Warnanya pun kecoklatan bukan kehitaman, karena prosesnya masih tradisional, yakni menggunakan kayu bakar. Bukan diproses secara modern, atau pabrikan,” paparnya.

Sejauh ini pihak Pemkab Pemalang belum terlibat langsung terhadap petani gula aren. Keterlibatannya hanya sebatas seremonial saja, seperti menyertakan di dalam acara pameran atau ekspo.

Padahal ditinjau dari sudut pertumbuhan ekonomi masyarakat, produk olahan gula aren cukup potensial dan menjanjikan. Alangkah bijaknya jika pelaku UMKM ini ditangani dengan baik melalui penyuluhan Pemkab Pemalang. Petani gula aren Desa Bongas sangat berharap adanya sentuhan dari pihak berkompetan agar menjadi pebisnis professional. (H. Sinano Esha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *