JAKARTA.Nesiapost.com – Di tengah kondisi kelompok masyarakat terbelah jadi dua kutub yang saling berlawanan dan sukar dipertemukan (polarisasi), dialog menjadi solusi awal guna menekan potensi konflik semakin jauh. Dan tantangan intoleransi hendaknya disikapi melalui pendekatan menyeluruh, lengkap, dan mencakup semua aspek penting (komprehensif).
Demikian pernyataan tertulis advokat Stefanus Gunawan, SH, M.Hum yang diterima redaksi nesiapost.com baru-baru ini, seusai pertemuannya dengan Prof. Dr. Junimart Girsang, SH, MH, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Italia merangkap Republik Malta, Republik San Marino dan Republik Siprus, termasuk perwakilan RI untuk FAO, IFAD, WFD dan UNIDROT di Wisma Dubes RI, Roma, Kamis (16/4/2026).
Selain Stefanus, pertemuan itu juga dihadiri Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian (KKP) Keuskupan Agung Jakarta, Agustinus Heri Wibowo, serta Sekretaris KKP KAJ, Pelinda Bangun.
Pada pertemuan itu, tulis Stefanus, dipaparkan bahwa dialog tidak bisa berdiri sendiri. Hal lainnya, adalah penegakan hukum yang harus menjadi pilar utama guna perlindungan HAM terhadap masyarakat secara luas.
“ Seluruh elemen masyarakat hendaknya melakukan advokasi terhadap berbagai kasus kemanusia, hak asasi, dan juga perdagangan manusia atau human trafficking,” jelasnya lebih jauh.
Di kesempatan itu Stefanus juga mengingatkan, bahwa media sosial amat berperan menjadi pemicu ujaran kebencian. Menurut dia, narasi bersifat provokatif berpontensi dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk kepentingan sempit, sehingga dapat mengganggu harmoni sosial.
“ Dengan begitu, tanggung jawab moral tokoh agama dan tokoh masyarakat sangat penting. Peran mereka cukup strategis dalam menjaga suasana tetap kondusif, dan seyogianya dapat mencegah konflik berbasis perbedaan,” ucapnya.
Dijelaskan Stefanus, pada pertemuan itu terjadi diskusi antara Junimart Girsang dengan rombongan, khususnya menyangkut kondisi sosial Indonesia saat ini, serta peran penting menjaga kebebasan beragama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Ketua DPC Peradi SAI Jakarta Barat, pertemuan di Roma bersama Duta Besar Junimart Girsang menunjukan perihal kepedulian terhadap kondisi social di Indonesia tidak dibatasi oleh jarak geografis. Diplomasi dapat menjadi tempat strategis untuk merumuskan langkah bersama dalam menjaga persatuan .
“ Pesan perdamaian pada pertemuan itu tidak mesti berhenti sebagai wacana, melainkan dapat diterapkan secara konkret di tengah masyarakat. Mengingat Indonesia adalah bangsa yang dibangun dari keberagaman. Karenanya, dialog dan penegakan hukum harus berjalan beriringan agar persatuan tetap terjaga,” Stefanus berharap.
Dalam keterangan tertulis, dia berterimakasih kepada Duta Besar Luar Biasa Junimart Girsang menerima dan berdialog yang cukup bermakna, dan melahirkan komitmen untuk tidak pernah berhenti mencintai Indonesia, serta menjaga persatuan. (H. Sinano Esha).











